Keagungan Rasulullah SAW sungguh membuat kami-tentu juga Anda sekalian sangat kagum.
Keagungan beliau tidak akan membuat kagum selain bagi orang yang menjadikan Allah sebagai
Tuhannya dan Islam sebagai agamanya.
Sebelum datang kerasulan beliau, pakaian kita umat Islam tergeletak di atas tanah berlumur kotoran
dan debu. Begitu beliau diangkat menjadi Rasul, pakaian kita diangkat dari tanah lalu di bersihkan, dan
setelah duapuluh lima tahun kita sanggup berlayar di atas lautan serta mengarungi samudera sambil
menjunjung kalimat laa ilaaha illallaah.
Suatu hari Rab'i ibn ‘Amir, salah seorang sahabat, memasuki wilayah Qadisiyah dan bertemu dengan
panglima pasukan kerajaan Persia yang bernama Rustam. Ketika melihat Rab'i, Rustarn tertawa.
Mengapa ia tertawa? la menertawakan orang-orang Arab yang menurutnya adalah bangsa yang suka
berpindah-pindah tempat (nomaden), primitif, tidak tahu peradaban, dan tidak berbudaya. Mereka
cuma bisa berburu biayak dan kumbang padang pasir lalu memakannya dan tidur dengan wajah
menempel di atas padang pasir. Tak heran jika sang panglima pasukan Persia itu tertawa begitu melihat
orang Arab karena ia tahu bagaimana watak dan tabiat mereka. Tapi ia tidak tahu bahwa orang-orang
Arab kini telah berubah. Ia tidak tahu bahwa orang yang ia tertawakan kini sudah bukan manusia
primitif dan tak beradab lagi.
Rustam berkata kepadanya, "Apakah kamu akan menaklukan dunia ini dengan kudamu yang lesu,
dengan panahmu yang rapuh dan dengan pakaianmu yang lusuh?" Rab'i berkata, "Ya. Sesungguhnya
Allah telah memberikan titah kepada kami untuk membebaskan manusia dari penghambaan terhadap
sesama hamba menjadi penghambaan hanya kepada Tuhan hamba, dari sempitnya dunia menuju
lapangnya akhirat, dan dari kezaliman agama-agama buatan manusia menuju keadilan Islam."
Akhirnya, Islam yang didakwahkan Rab'i memperoleh kemenangan, kalimat laa ilaaha illallaah pun
terpancang tinggi.
Ketika Qutaibah ibn Muslim memimpin pasukan Islam mengepung kota Kabul, ia menanyakan tentang
Muhammad ibn Wasi' kepada pasukannya. Muhammad ibn Wasi' adalah seorang ahli ibadah, zuhud,
dan alim. Mereka mengatakan, "la sedang berada di barisan paling belakang dari pasukan kita ini."
Qutaibah berkata lagi, "Pergilah kalian, dan lihat apa yang sedang ia lakukan!" Mereka pergi untuk
melihat apa yang sedang dilakukannya. Ternyata mereka menemukannya sedang berdzikir dan berdoa
kepada Allah sambil menunjukkan jarinya ke langit. Mereka kembali kepada Qutaibah dan melaporkan
hal itu kepadanya. Mendengar keterangan itu, Qutaibah menitikkan airmata, lalu berkata, "Demi Dzat
Yang jiwaku di TanganNya, sungguh jari Muhammad ibn Wasi' itu lebih baik bagiku daripada seratus
ribu pedang yang terhunus dan dari seratus ribu pejuang yang gagah berani."
Pada waktu Rasulullah SAW diutus kepada umatnya, mereka sedang membutuhkan apa yang kelak
disebut dengan industri, ketersediaan pangan, air minum dan sumber makanan lainnya. Akan tetapi
beliau tidak mendahulukan semua itu. Yang pertama-tama beliau lakukan adalah membangun masjid.
Masjid yang dibangun oleh Nabi SAW kemudian menjadi sumber ilmu pengetahuan. Dari masjid itu
lalu lahir ulama-ulama ternama, para mufassir besar, dan ilmuan-ilmuan ternama.
Kebutuhan-kebutuhan duniawi tersebut di atas haruslah menempati urutan kedua setelah terbentuknya
kepribadian umat, kecerdasan, dan kekuatan iman mereka.
Masjid Rasulullah SAW selalu ranmai dengan segala macam dan aspek kehidupan. la merupakan
markas komando tertinggi, pusat ilmu dan pengkajian, tempat pertemuan kaum pencinta ilmu, tempat
berkumpul para tokoh dan pejuang Islam, dan tentu saja tempat ibadah.
Berbasiskan masjid, Rasulullah SAW berhasil membangun sebuah umat yang akan selalu eksis
sepanjang masa, atas karunia Allah. Beliau sukses melakukan itu semua berkat kegigihan, kesabaran,
budi pekerti yang baik serta kelapangan dadanya. Tentang beliau Allah SWT berfirman, "Dan yang
mempersatukan hati mereka [orang-orang yang beriman]. Walaupun kamu membelanjakan semua
[kekayaan] yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi
Allah telah mempersatukan mereka. Sesungguhnya Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. al-
Anfal [8]: 63)
Sungguh merupakan mukjizat terbesar; Rasulullah SAW datang kepada umat yang buta huruf, umat
jahiliah, dan beliau sendiri seorang yang tidak pandai baca tulis, kemudian beliau berhasil membangun
sebuah peradaban teragung dalam sejarah umat manusia.
DR. A’id ‘Abdullah Al-Qarni
ria_firdaus:
Rasulullah SAW Lah Yang Berhasil Menciptakan Manusia Untuk Selalu Ingat Kepada Allah Setiap
Saat
Suatu hari, ‘Umar ibn al-Khaththab melewati seorang penggembala kambing. ‘Umar berkata
kepadanya, "Wahai penggembala, juallah seekor saja dari kambingmu itu kepadaku!" Penggembala itu
berkata, "Kambing-kambing ini bukanlah milikku, melainkan milik majikanku. Dan ia tidak
mengizinkanku menjualnya. ‘Umar bermaksud menguji keteguhan iman si penggembala itu dengan
mengatakan, "Katakan saja kepada majikanmu itu bahwa seekor kambingnya telah dimakan serigala."
Namun, penggembala itu berkata, "Allahu Akbar (Allah Mahabesar), wahai ‘Umar, dimanakah Allah?"
‘Umar menangis melihat keteguhan iman dari penggembala itu.
Tiada yang mengajari si penggembala kambing itu tentang pengawasan Allah Yang Mahatunggal lagi
Maha Esa selain Rasulullah SAW. Kedatangan Rasulullah SAW menjadi rahmat dan petunjuk bagi
manusia, sebagaimana firman-Nya mengatakan, "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk
[menjadi] rahmat bagi semesta alam." (QS. al-Anbiya` [21]: 107) Salah seorang cendekiawan Muslim
berkata, "Sungguh mengagumkan, sebuah dakwah telah mengumumkan keuniversalitasan dakwahnya
sejak hari pertama." Allah SWT berfirman, "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk
[menjadi] rahmat bagi semesta alam." (QS. al-Anbiya` [21]: 107) Ayat ini mengandung pengertian
bahwa Rasulullah SAW adalah rahmat bagi kaum Muslim, kafir, hewan dan manusia. Ketika suatu kali
Rasulullah SAW mengimami shalat, beliau mendengar tangisan bayi bersama ibunya. Beliau ingat
bahwa ibunya adalah seorang Muslimah. Maka beliau menyegerakan shalatnya. Setelah salam beliau
bersabda, "Sesungguhnya aku berniat untuk memanjangkan shalat, tapi kemudian mendengar tangisan
bayi. Maka aku menyegerakan shalatku, karena khawatir (kalau shalatnya lama) dapat memberatkan
ibunya." (HR. Bukhari)
Oleh karena itu beliau pernah bersabda, "Wahai sekalian manusia, barangsiapa di antara kalian menjadi
imam ketika shalat, maka ringankanlah (pendekkanlah) shalatnya, sebab di antara para makmum ada
orang tua, anak-anak dan orang yang mempunyai keperluan." (HR. Bukhari)
Oleh karena itu pula beliau pernah memarahi Mu'adz ketika ia memanjangkan shalatnya saat
mengimami para sahabat. Rasulullah SAW bersabda kepada Mu'adz, "Apakah kamu ini pembuat
fitnah, wahai Mu'adz? Apakah kamu ini pembuat fitnah, wahai Mu'adz?" (HR. Bukhari)
Tentang kasih sayang Rasulullah SAW terhadap binatang, Ibnu Mas'ud meriwayatkan bahwa ketika
beliau duduk di bawah pohon, hinggaplah seekor burung hummarah di atas kepala beliau. Beliau SAW
berkata kepada para sahabat, "Burung ini mengadu kepadaku tentang anaknya yang kalian ambil.
Kembalikanlah anak burung itu kepadanya." (HR. Abu Dawud) Maka salah seorang sahabat
mengembalikan anak burung kepada induknya yang bertengger di atas kepala beliau SAW itu. Setelah
itu, sang induk terbang kembali bersama anaknya.
Kasih sayang Rasulullah SAW bahkan meliputi orang kafir, sebagaimana firman Allah berbunyi, "Dan
Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah
[pula] Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun." (QS. al-Anfal [8]: 33)
Dakwah yang dibawa Rasulullah SAW bercirikan kemudahan, dan jauh dari kesulitan dan kerumitan.
Namun kebanyakan kita ketika berbicara dengan orang lain dalam rangka berdakwah dan menyebarkan
ilmu lebih suka memilih kata-kata yang sulit, susah dipahami, dan berpanjang-panjang tanpa
menghasilkan faedah bagi si pendengar. Sebab, kita lebih suka dengan kesulitan dan kerumitan,
ketimbang kemudahan dan keringanan. Rasulullah SAW benar-benar merupakan contoh ideal bagi
kemudahan dan kemurahan.
Dalam hadits Anas dikatakan, "Dhamam ibn Tsa'labah, saudara Bani Sa'ad ibn Bakar, datang dari satu
tempat. Waktu itu Rasulullah SAW sedang berada di dalam masjid. Kemudian Dhamam ibn Tsa'labah
mengikatkan untanya di ujung masjid lalu menerobos barisan manusia yang ada di dalam masjid dan
berkata, "Mana anak ‘Abdul Muthalib (Rasulullah SAW)?" Setelah bertemu dengan Rasulullah, ia
berkata, "Wahai anak ‘Abdul Muthalib!" Rasulullah SAW menjawab, "Ya. Ada yang bisa aku bantu?"
Dhamam berkata, "Aku akan bertanya kepadamu tentang beberapa permasalahan:" Dengan tersenyum,
Rasulullah SAW menjawab, "Silahkan!" Dhamam berkata, "Siapakah yang meninggikan langit?"
Beliau menjawab, "Allah." Dhamam ibn Tsa'labah, "Siapakah yang menghamparkan bumi?" "Allah,"
jawab Nabi Iagi. "Siapakah yang memancangkan gunung-gunung?" terusnya. Nabi menjawab, "Allah."
Kemudian, Dhamam berkata, "Telah aku tanyakan kepadamu tentang siapa yang meninggikan langit,
yang menghamparkan bumi, dan yang memancangkan gunung-gunung. Dan engkau pun telah
menjawabnya. Sekarang, apakah Allah itu Yang mengutusmu kepada kami sebagai Rasul?" Rasulullah
SAW menjawab, "Ya."
Selanjutnya Dhamam ibn Tsa'labah menanyakan kepada beliau tentang rukun-rukun Islam. Dan setelah
selesai semua pertanyaannya dijawab oleh Rasulullah, ia mempersaksikan keislamannya di hadapan
beliau SAW, lalu berkata, "Aku adalah Dhamam ibn Tsa'labah, saudara Bani Sa’ad ibn Bakr. Demi
Allah, aku tidak akan menambahi atau mengurangi apa yang telah aku dengar." Kemudian ia berbalik,
dan Rasulullah SAW mengikutinya dengan tatapan dan senyuman serta perasaan leganya. Lalu beliau
bersabda, "Barangsiapa ingin melihat seseorang dari penghuni surga, maka lihatlah orang itu (Dhamam
ibn Tsa'labah). (HR. Buklhari)
DR. A’id ‘Abdullah Al-Qarni
ria_firdaus:
Inilah Cara Mudah Penyampaian Dakwah Yang Ditempuh Oleh Rasulullah SAW
Dalam hadits Anas dikatakan, "Dhamam ibn Tsa'labah, saudara Bani Sa'ad ibn Bakar, datang dari satu
tempat. Waktu itu Rasulullah SAW sedang berada di dalam masjid. Kemudian Dhamam ibn Tsa'labah
mengikatkan untanya di ujung masjid lalu menerobos barisan manusia yang ada di dalam masjid dan
berkata, "Mana anak ‘Abdul Muthalib (Rasulullah SAW)?" Setelah bertemu dengan Rasulullah, ia
berkata, "Wahai anak ‘Abdul Muthalib!" Rasulullah SAW menjawab, "Ya. Ada yang bisa aku bantu?"
Dhamam berkata, "Aku akan bertanya kepadamu tentang beberapa permasalahan:" Dengan tersenyum,
Rasulullah SAW menjawab, "Silahkan!" Dhamam berkata, "Siapakah yang meninggikan langit?"
Beliau menjawab, "Allah." Dhamam ibn Tsa'labah, "Siapakah yang menghamparkan bumi?" "Allah,"
jawab Nabi Iagi. "Siapakah yang memancangkan gunung-gunung?" terusnya. Nabi menjawab, "Allah."
Kemudian, Dhamam berkata, "Telah aku tanyakan kepadamu tentang siapa yang meninggikan langit,
yang menghamparkan bumi, dan yang memancangkan gunung-gunung. Dan engkau pun telah
menjawabnya. Sekarang, apakah Allah itu Yang mengutusmu kepada kami sebagai Rasul?" Rasulullah
SAW menjawab, "Ya."
Selanjutnya Dhamam ibn Tsa'labah menanyakan kepada beliau tentang rukun-rukun Islam. Dan setelah
selesai semua pertanyaannya dijawab oleh Rasulullah, ia mempersaksikan keislamannya di hadapan
beliau SAW, lalu berkata, "Aku adalah Dhamam ibn Tsa'labah, saudara Bani Sa’ad ibn Bakr. Demi
Allah, aku tidak akan menambahi atau mengurangi apa yang telah aku dengar." Kemudian ia berbalik,
dan Rasulullah SAW mengikutinya dengan tatapan dan senyuman serta perasaan leganya. Lalu beliau
bersabda, "Barangsiapa ingin melihat seseorang dari penghuni surga, maka lihatlah orang itu (Dhamam
ibn Tsa'labah). (HR. Buklhari)
Dari hadits di atas dapat diambil sedikitnya tiga pelajaran:
Pertama, kemudahan harus selalu menyertai para da'i ketika mereka menyampaikan seruan dan
dakwahnya di tengah-tengah manusia.
Kedua, mendahulukan urusan-urusan yang terpenting dan masalah-masalah besar, yaitu masalah tauhid
dan aqidah keimanan.
Ketiga, orang yang mengerjakan segala kewajiban dan menjauhi semua yang diharamkan oleh Allah,
Insya Allah akan masuk surga atas izin-Nya.
Di antara pola dakwah yang ditempuh oleh Rasulullah SAW adalah pola spesialisasi. Beliau selalu
menempatkan orang yang tepat pada tempat yang tepat pula. Beliau juga kerap menunjuk seseorang
melakukan sesuatu yang sesuai dengan keadaan dan kepribadian orang itu. Dalam Sunan at-Tirmidzi
diriwayatkan bahwa ‘Abdullah ibn Busr datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, "Wahai
Rasulullah, sesungguhnya ajaran-ajaran syari'at Islam aku anggap banyak (berat) sekali. Maka
beritakan kepadaku sesuatu yang dapat selalu aku lakukan." Rasulullah SAW bersabda, "Lidahmu
selalu basah menyebut nama Allah."' Rasulullah SAW memerintahkan perbuatan yang terbilang ringan
itu kepada ‘Abdullah ibn Busr, kerena ia orang tua yang sudah tidak sanggup lagi berpuasa, tidak
mampu lagi memperbanyak shalat, dan tentu saja tidak bisa lagi ikut berjihad.
Begitulah, Rasulullah SAW selalu memilihkan amal-amal ibadah untuk semua kalangan sesuai dengan
kondisi objektif mereka masing-masing. Ini berbeda dengan para da'i di masa sekarang, di mana
mereka menyampaikan dakwah kepada khalayak tanpa memperhatikan kondisi, potensi, dan strata
mereka.
Di antara pola dakwah lainnya dari beliau SAW adalah pola gradual (tadarruj), fase demi fase, tanpa
melupakan kedalaman meteri dan substansi dakwah. Ketika mengutus Mu'adz ke Yaman, beliau
bersabda kepada Mu'adz, "Sesungguhnya kamu akan mendatangi satu kaum Ahli Kitab." Maksudnya,
ketahuilah siapa yang akan menjadi objek dakwahmu. Ketahuilah bahwa kamu akan berada di tengahtengah
masyarakat terdidik. "Hendaklah yang pertama kali kamu dakwahkan adalah kesaksian bahwa
tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Jika mereka memenuhi
seruanmu, maka beritakan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima
waktu dalam sehari semalam.” (HR. Bukhari) Rasulullah SAW menyuruh Mu'adz untuk
menyampaikan dakwah kepada penduduk Yaman secara bertahap.
Itulah sekelumit tentang dakwah Rasulullah SAW dan pola penyampaiannya yang beliau tempuh.
Selanjutnya, mari kita lihat bagaimana ibadah beliau. Dengan harapan kita bisa mengambil pelajaran
darinya untuk diaplikasikan dalam realitas keseharian kita sekarang yang penuh dengan
pembangkangan dan penyimpangan. Allah telah memuji para nabi. Pujian itu diakhiri dengan
firmanNya, "... dan hanya kepada Kami mereka menyembah." (QS. al-Anbiya’ [21]: 73)
Dalam surah al-Kahfi Allah menyatakan bahwa la telah memelihara harta benda milik dua orang anak
yatim. Frman-Nya, "...sedang ayah keduanya adalah seorang yang shalih." (QS. al-Kahfi [18]: 82)
Allah menjaga harta benda mereka karena ayah mereka adalah orang shalih.
Allah juga memuji Rasulullah SAW Ketika menyampaikan pujian-Nya, Allah tidak memanggil beliau
dengan, misalnya, "Wahai bapak al-Qasim," atau "Wahai keturunan Bani Hasyim," atau "Wahai anak
‘Abdul Muthalib," melainkah dengan "hamba-Nya” seperti dalam firman-Nya yang berbunyi,
"Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjid al-Haram
ke al-Masjid al-Aqsha." (QS. al-Isra’ [17]: 1) Firman-Nya lagi, "Dan bahwasanya tatkala (Muharnmad)
hamba Allah berdiri menyembahNya, hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuninya." (QS.
al-Jin [72]: 19) Firman-Nya pula, "Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqan [yaitu Al-Qur'an]
kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alarn." (QS. al-Furqan [25]:
1)
Pada ayat-ayat di atas Allah memuji Rasulullah SAW karena ibadah yang dilakukan beliau, bukan
karena yang lainnya.
Ibn Qayyim berkata, "Rasulullah SAW, setiap ucapannya, setiap tarikan nafasnya, semua amalnya,
duduknya, bahkan tidurnya, merupakan dzikir kepada Tuhannya."
Tawadhu' (rendah hati) merupakan bekal wajib bagi setiap da'i, setiap pencari ilmu, dan setiap Muslim.
Sebab sesungguhnya Allah telah mengangkat derajat Rasulullah SAW karena ketawadhu'annya. Allah
SWT berfirman, "Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena
sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai
setinggi gunung." (QS. al-Isra’ [17]: 37)
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang bertawadhu' kepada Allah, maka
Allah akan mengangkat (derajat)nya, dan barangsiapa yang sombong kepada Allah, maka Allah akan
merendahkan (derajat)-nya.” (HR. Ahmad)
Dalam sebuah hadits shahih diriwayatkan bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah telah
mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu' sehingga seseorang tidak menganiaya orang lain dan
seseorang tidak sombong terhadap orang lain." (HR. Muslim)
DR. A’id ‘Abdullah Al-Qarni
ria_firdaus:
:C
emburu Karena Cinta RasulullahPenulis : Ahmad Sahidin
Wanita memang diciptakan sesuai dengan sifat dan wataknya. Selain cenderung emosional dan
dramatisir juga pecemburu. Dalam tarikh, selain Aisyah, Hafshah dikenal sebagai istri Rasulullah SAW
yang pencemburu. Terkadang sering membuat ulah untuk menarik perhatian Rasulullah. Suatu hari,
ketika Rasulullah menemuinya, Hafshah bertanya, "Ya Rasulullah, mengapa mulutmu berbau busuk?"
"Aku baru saja minum madu, bukan maghafir," jawab Nabi penuh tanda tanya. "Kalau begitu, engkau
minum madu yang sudah lama," timpal Hafshah.
Keheranan Rasulullah makin bertambah ketika Aisyah yang ditemuinya mengatakan hal serupa. Saking
kesalnya, Rasulullah mengharamkan madu buat dirinya untuk beberapa waktu. Beliau tak tahu kalau
Hafshah telah "berkomplot" dengan Aisyah untuk "ngerjain" Rasulullah. Keduanya cemburu lantaran
Nabi tinggal lebih lama dari jatah waktunya di rumah Zainab binti Jahsy. Waktu itu Nabi tertahan
karena Zainab menawarkan madu kepada beliau.
Membicarakan kehidupan Hafshah binti Umar bin Khattab tak bisa lepas dari sifat pencemburunya.
Pada dasarnya, sifatnya itu lahir dari rasa cintanya kepada Rasulullah. Ia merasa takut kalau Rasulullah
kurang memperhatikan dirinya. Namun, sifatnya itu melahirkan persoalan yang kurang menyenangkan.
Dikisahkan dalam sebuah perjalanan Nabi Muhammad SAW pernah membawa Hafshah dan Aisyah.
Kedua istri Nabi itu duduk di atas punggung unta yang berbeda. Selama perjalanan, Rasulullah lebih
sering berada bersama Aisyah. Saat istirahat, Hafshah yang terbakar api cemburu meminta Aisyah
berpindah tempat. Seusai istirahat, Rasulullah naik ke unta Aisyah yang sudah ditempati Hafshah dan
mengajak bicara. Beliau tak tahu kalau yang menjawabnya dengan jawaban-jawaban pendek itu
Hafshah. Dan Rasulullah tersadar bahwa dirinya dipermainkan kedua istrinya.
Begitu seringnya Hafshah membuat ulah, lantaran cemburu, Rasulullah pernah berniat akan
menceraikannya. Namun, Jibril datang mencegah Nabi. Rasulullah malah mendatangi anak Umar bin
Khattab itu dan berkata, "Ya Hafshah, hari ini Jibril datang kepadaku dan memerintahkan kepadaku
"irji' ilaa Hafshah, fainnaha hiya showwama, qowwama wa hiya azawaajuka fil jannah" (kembalilah
kepada Hafshah, sesungguhnya ia wanita yang senAntiasa puasa, mendirikan shalat, dan ia adalah
istrimu kelak di surga). Dialah Hafshah binti Umar, wanita yang mendapat pembelaan Jibril tatkala
hendak diceraikan Rasulullah lantaran sifat pencemburunya.
Meski memiliki kelemahan dan kekurangan karena sifatnya itu, tapi Hafshah adalah wanita yang tekun
beribadah. Ia rajin puasa sunnah dan tak pernah meninggalkan shalat tahajjud. Maka Jibril pun
membelanya, bahkan menyampaikan jaminan Allah bahwa Hafshah termasuk salah satu istri Nabi di
surga.
Kecemburuan istri-istrinya sebenarnya dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan manusiawi oleh
Rasulullah. Apalagi, beliau dikenal orang yang paling sabar dalam menghadapi berbagai persoalan,
termasuk ulah istri-istrinya. Namun, yang membuatnya marah adalah jika rasa cemburu itu mendorong
istri-istrinya atau dirinya melakukan maksiat kepada Allah. Rasulullah pernah ditegur Allah lantaran
mengharamkan madu dan istrinya Maria akibat ulah Hafshah. Rasa cemburu yang seperti inilah yang
tidak dibenarkan Rasulullah.
Akibat rasa cemburu yang berlebihan, Hafshah ditegur langsung oleh Allah melalui surat At-Tahrim
ayat 3 dan 4. Tapi, putri Umar bin Khattab itu pulalah yang dibela Jibril ketika hendak dicerai oleh
Rasulullah karena memiliki kelebihan-kelebihan dalam sisi peribadatannya. Allah SWT berfirman, Dan
ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya suatu peristiwa.
Maka tatkala menceritakan peristiwa itu dan Allah memberitahukan hal itu kepada Muhammad lalu
Muhammad memberitahukan sebagian dan menyembunyikan sebagian yang lain . Maka tatkala
memberitahukan pembicaraan lalu bertanya: "Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?"
Nabi menjawab: "Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal." Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah
condong ; dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah
adalah Pelindungnya dan Jibril dan orang-orang mu'min yang baik; dan selain dari itu malaikatmalaikat
adalah penolongnya pula. (QS At-Tahrim[66]: 3).
Ya, kelebihan seseorang dalam beribadah akan menolong seseorang dari kehilangan dan mendapat
pembelaan yang tak diduga-duga.
surga_firdaus:
Sumber: Http://www.artanto.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar