Jumat, 11 Mei 2012

MEMBUMIKAN AL-QUR'AN

 

 Mas Ippho Santosa berkata yang intinya: “Otak kanan adalah gerbangnya otak bawah sadar. Otak kanan cenderung membayangkan; apa yang Anda bayangkan berulang-ulang akan masuk ke dalam alam bawah sadar Anda“. Ketahuilah, bahwa sesuatu yang masuk ke alam bawah sadar akan berjalan secara otomatis tanpa perlu dipikirkan. Inilah kenapa Al-Quran begitu penting untukditadabburi, agar menghafal menjadi lebih mudah, karena melibatkan otak kanan yang notabene merupakan pintu gerbang pikiran bawah sadar.
Singkatnya begini: “Menghafal menjadi lebih mudah ketika kita membayangkan apa yang dihapal!”. Kebanyakan orang menghafal Al-Quran dengan cara konvensional; yaitu dengan terpaku kepada lafazh tanpa berusaha menyentuh makna. Harus dibedakan antara makna dan arti! Boleh jadi seseorang paham artinya, namun tidak berusaha memahami makna yang ada dibalik arti. Jika tadi dikatakan bahwa otak kanan itu cenderung membayangkan, maka otak kiri cenderung memikirkan. Percaya atau tidak, menghafal Al-Quran dengan cara memikirkan lafaz-lafaznya tidak semudah menghafal dengan memahami maknanya (mentadabburi) terlebih dahulu. Beberapa Perangkat Mentadabburi Al-Quran:

  1. Al-Quran terjemah 

  2. Buku Asbabun Nuzul(Sebab-sebabditurunkannya ayat), dan 

  3. Buku Tafsir Al-Quran Mentadabburi berbeda dengan menafsirkan; letak perbedaannya ada pada pengetahuan kita tentang makna. 

Tadabbur adalah mengetahui makna Al- Quran secara ijmaliy (global), sedangkan Tafsir secara tafshiliy (terperinci), itu yang pertama. Kedua , menafsirkan membutuhkan syarat- syarat khusus, supaya tidak melampui maksud Allah Swt yang tersirat di dalam ayat. Adapun tadabbur tidak membutuhkan syarat- syarat khusus, cukup memahami makna ayat secara umum dengan husnul qasdi (itikad yang benar dan baik). Allah berfirman: “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”. Ketiga , seringkali tafsir dimaksudkan hanya untuk sekedar mengetahui makna, sedangkan tadabbur dimaksudkan untuk mengambil manfaat dari ayat dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan agar berbuah perangai yang baik, amal shalih dan keimanan. Salah satu contoh bentuk tadabbur ayat Al-Quran: Di Al-Quran banyak sekali terdapat potongan ayat “Innallaha yuhibb…” “innallaha laa yuhibb…” yang berarti “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang…” dan “Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang…”. Anda dapat mengambil secarik kertas dan menulis ayat-ayat tersebut setiap kali Anda mendapatkannya. Bagian depan kertas Anda tulis dengan ayat “Sesungguhnya Allah menyukai…” dan bagian yang lain Anda tulis dengan kebalikannya. Tempel kertas itu di dinding kamar atau rumah Anda, dan pastikan kertas itu menjadi sarana untuk evaluasi diri. Apakah hari ini kita sudah melakukan apa yang Allah sukai? Dan apakah hari ini kita sudah menjauhi apa yang Allah tidak sukai? Dengan cara tersebut, semoga Al-Quran tidak hanya menjadi penghias suara kita, tapi juga dapat menjadi amal nyata. Kenapa mesti ada amal nyatanya? Sekarang saya ingin bertanya, dapatkah Anda membayangkan rumah yang penuh tikus? Bagaimana cara mengusir tikus-tikus itu? Banyak cara, salah satunya dengan menempel poster kucing
dimana-mana. Anda yakin dengan cara itu berhasil? Mungkin saja, sekali atau dua kali tikus akan takut, tapi kemudian Anda akan dapati tikus itu menari-nari di atas poster kucing, kenapa? Dan saya yakin Anda tahu jawabannya. Sesungguhnya setan tidak pernah takut kepada banyaknya hafalan seorang muslim! Tapi setan
hanya takut dengan hafalan yang berwujud ke dalam keseharian seorang muslim. Pengaruhnya terlihat dalam tutur kata dan tingkah lakunya. Muslim seperti inilah yang ditakuti setan dan mengancam eksistensinya. Inilah salah satu alasan kenapa tadabbur itu penting, alasan lainnya adalah, agar hafalan kita menjadi lebih kuat. Pintu Masuk Lain Ada pintu lain untuk masuk ke dalam pikiran bawah sadar. Apa itu? Dan saya yakin Anda sudah tahu! Pengulangan! Yang pengulangan! Pengulangan dalam menghafal Al-Quran biasa dikenal dengan istilah Muraja’ah. Banyak orang tergesa-gesa menghafal Al-Quran dengan harapan supaya cepat hafal semuanya. Hal ini sulit, kenapa? Karena memang aturan otak memungkinkan seseorang untuk cepat lupa, Sebagian besar memori menghilang dalam hitungan detik. Di sinilah pentingnya Muraja’ah atau mengulang. Semakin seseorang mengulang, semakin mudah dia melantunkan bacaan Al-Qurannya, tanpa perlu berfikir “bagaimana bunyi ayat selanjutnya?” Hal ini dapat dicontohkan dengan seorang anak yang berusaha belajar sepeda. Pada mulanya ia akan merasa kesulitan, ia akan sering melihat pedal sepedanya, apakah kakinya pas berada di atas pedal atau tidak, begitu pula ketika mengendalikanstang sepeda, mulanya ia  akan merasa kaku. Seiring berjalannya waktu, ia tidak perlu lagi repo tmelihat ini dan itu, semuanya berjalan secara otomatis. Cara mengemudikan sepeda sudah tersimpan di dalam alam bawah sadarnya. Kaki dan tangannya bergerak secara otomatis tanpa perlu dipikir lagi. Jangan remehkan pengulangan! Tahukah Anda bahwa Islam mengajarkan kita bahwa pengulangan itu penting? Rasulullah Saw bersabda: “Jangan menganggap remeh terhadap perbuatan sekecil apa pun, sekalipun hanya menyalami saudaramu dengan wajah yang cerah.” (HR. Muslim) Dalam surat 24 ayat 15 yang artinya “Dan kamu menganggapnya ringan saja, padahal dia pada posisi Allah adalah besar”. Perhatikan juga dzikir kita; kalimat Tasbih dan sebagainya. Kenapa kita
diperintah untuk mengucapkannya berulang-ulang? Pasti ada hikmahnya bukan? Seberapa banyak kita mengulang lebih penting dari seberapa banyak kita menjejal pengetahuan ke dalam otak, karena manusia berubah bukan karena banyaknya pengetahuan. Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang, dan
Aristoteles menegaskan lewat ungkapannya “keunggulan adalah sebuah kebiasaan”, dan kebiasaan tidak lain adalah hasil dari pengulangan. Karenanya ada pepatah “pratice make perfect“, bisa karena terbiasa. Kesimpulannya, supaya kita terbiasa, kita butuh pengulangan dalam hal apapun itu, termasuk dalam menghafal Al-Quran. Dari sini sangat tidak diharapkan jika ada seorang muslim yang berkata “Saya sudah tahu”. Pengulangan akan membuat Anda bertindak. Pengulangan juga menambah pemahaman baru. Jadi hal terpenting adalah bukan sudah tahu atau tidaknya, tapi mau atau tidak diingatkan (mengulang kembali). Tentukanlah visi Anda dari menghafal Al-Quran, singkatnya adalah, tanyakan pada diri Anda “Mau diapakan Al- Qurannya kalau sudah di hapal?”. Ingatlah bahwa Setiap perkataan dimaksudkan untuk dipahamimakna-
 maknanya, bukan untuk sekedar dihafal, dan Al- Quran lebih utama untuk dipahami (ditadabburi) makna ayat-ayatnya sebelum perkataan lainnya. Terakhir, Jangan jadikan Al-Quran hanya sebagai buku yang banyak beredar, namun jarang dipahami!


Sumber: www.dakwatuna.com

Kamis, 03 Mei 2012

Siksa dan Dosa Meninggalkan Shalat Fardhu

6 Siksa di Dunia Orang yang Meninggalkan Shalat Fardhu : Allah SWT mengurangi keberkatan umurnya. Allah SWT akan mempersulit rezekinya. Allah SWT akan menghilangkan tanda/ cahaya shaleh dari raut wajahnya. Orang yang meninggalkan shalat tidak mempunyai tempat di dalam islam. Amal kebaikan yang pernah dilakukannya tidak mendapatkan pahala dari Allah SWT. Allah tidak akan mengabulkan doanya. 3 Siksa Orang yang Meninggalkan Shalat Fardhu Ketika Menghadapi Sakratul Maut : Orang yang meninggalkan shalat akan menghadapi sakratul maut dalam keadaan hina. Meninggal dalam keadaan yang sangat lapar. Meninggal dalam keadaan yang sangat haus. 3 Siksa Orang yang Meninggalkan Shalat Fardhu di Dalam Kubur : Allah SWT akan menyempitkan kuburannya sesempit sempitnya. Orang yang meninggalkan shalat kuburannya akan sangat gelap. Disiksa sampai hari kiamat tiba. 3 Siksa Orang yang Meninggalkan Shalat Fardhu Ketika Bertemu Allah : Orang yang meninggalkan shalat di hari kiamat akan dibelenggu oleh malaikat. Allah SWT tidak akan memandangnya dengan kasih sayang. Allah SWT tidak akan mengampunkan dosa dosanya dan akan di azab sangat pedih di neraka. Dosa Meninggalkan Shalat Fardhu : ¤Shalat Subuh : satu kali meninggalkan akan dimasukkan ke dalam neraka selama 30 tahun yang sama dengan 60.000 tahun di dunia. ¤Shalat Zuhur : satu kali meninggalkan dosanya sama dengan membunuh 1.000 orang umat islam. ¤Shalat Ashar : satu kali meninggalkan dosanya sama dengan menutup/ meruntuhkan ka’bah. ¤Shalat Magrib : satu kali meninggalkan dosanya sama dengan berzina dengan orangtua. ¤Shalat Isya : satu kali meninggalkan tidak akan di ridhoi Allah SWT tinggal di bumi atau di bawah langit serta makan dan minum dari nikmatnya. ___ ___ ___ Wallohu A'lam Bisshowwab

DUNIA MENDATANGINYA

Rosulullah SAW Bersabda : Barang siapa yang tujuan utamanya adalah meraih pahala akhirat, niscaya Allah akan menjadikan kekayaannya berada dalam kalbunya. Menghimpunkan baginya semua potensi yang dimilikinya, dan dunia akan datang sendiri kepadanya seraya mengejarnya. Sebaliknya barang siapa yang tujuan utamanya adalah meraih dunia. Niscaya Allah akan menjadikan kemiskinan benda di depan matanya. Membayarkan semua potensi yang dimilikinya dan dunia tidak mau datang sendiri kepadanya, kecuali menurut apa yang telah di taqdirkan untuknya (HR. Tirmidzi) Budak dunia akan kehilangan akhirat dan pemburu akhirat akan membuat dunia terbirit-birit mengejarnya di segala kesempatan. Biarkan dunia itu kalian posisikan pada posisinya yang benar. Menjadi hamba-hamba kalian, menjadi abdi-abdi kalian, menjadi pelayan-pelayan kalian. Dengan demikian kalian akan mudah menjadi hamba Allah, Robb semesta alam Dunia yang seharusnya kita dengan gampang menginjak-injak nya, telah dengan gampang menginjak-injak kepala kita. Duniayang seharusnya tidak pernah menempel di dalam sanubari kita, malah menjadi raja yang mengatur semua organ tubuh kita. Dunia itu terbatas umurnya. Dunia itu sementara kenikmatannya. Kalian boleh menikmatinya namun sebatas yang dibutuhkan untuk kepentingan akhirat kalian. Jangan berlebihan dan melampaui batas. Sebab jika kalian menikmatidunia dengan penuh ketamakan maka tak ubahnya kalian laksana binatang bahkan lebih buruk dari mereka. Karena kalian memiliki akal dan hati yang bisa lebih jernih melihat hakikat sesuatu namun kalian tidak lagi mampu. Dunia yang seharusnya kita jadikan sebagai hamba, telah berbalik menjadi tuan. Dunia yang seharusnya berada di bawah telapak kaki kita jadikan di ubun-ubun kita.

Sabtu, 07 April 2012

Wudhu Mencegah Terjadinya Berbagai Penyakit Kulit

Rasulullah bersabda, Barangsiapa berwudhu dengan membaguskan wudhunya, maka keluarlah dosa-dosanya dari kulitnya sampai dari kuku jari-jemarinya. HR. Muslim. Rasulullah bersabda, Sungguh ummatku akan diseru pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya karena bekas wudhunya, (Abu Hurairah menambahkan) maka siapa yang mampu melebihkan panjang sinar pada tubuhnya, maka lakukanlah. (HR. Bukhari dan Muslim).

Ilmu kontemporer menetapkan -setelah melalui percobaan mikroskopi terhadap tumbuhnya mikroba pada orang yang berwudhu secara teratur dan juga kepada yang tidak teratur- bahwasannya orang yang selalu berwudhu maka mayoritas hidung mereka menjadi bersih, tidak terdapat berbagai mikroba. Oleh karena itu, adanya mikroba yang menempel pada mereka hilang sama sekali ketika mereka membersihkan hidung, dibandingkan dengan orang yang tidak berwudhu maka tumbuh pada hidung mereka berbagai mikroba dalam jumlah yang besar yang termasuk jenis mikroba berbentuk bulat dan berklaster yang sangat berbahaya ... dan mikroba yang cepat menyebar dan berkembang-biak ... dan mikroba lainnya yang menyebabkan banyak terjadinya berbagai penyakit. Dan sudah jelas bahwasannya proses keracunan itu terjadi adanya perkembangan berbagai mikroba yang berbahaya bagi rongga hidung, kemudian sampai ke tenggorokan untuk kemudian terjadi berbagai peradangan dan penyakit, apalagi jika sampai masuk ke peredaran darah!!

Oleh karena itu, disyari\'atkan untuk melakukan istinsyaaq (menghirup air ke dalam hidung) sebanyak 3 kali kemudian menyemburkannya (tetap dengan hidung) setiap kali wudhu. Adapun berkumur-kumur itu dimaksudkan untuk menjaga kebersihan mulut dan kerongkongan dari peradangan dan pembusukan pada gusi, serta menjaga gigi dari sisa-sisa makanan yang menempel gigi. Dan sudah terbukti secara ilmiah bahwa 90% orang yang mengalami kerusakan gigi jika saja mereka mau perhatian terhadap kebersihan mulutnya ketika dahulu rusak gigi-gigi mereka, dan adanya pembusukan yang terjadi disebabkan oleh makanan dan air liur dan bercampur dalam perut dan menuju ke darah. Dan dari darah itulah kemudian menyebar ke seluruh organ dan kemudian menyebabkan berbagai penyakit.

Dan sungguh, berkumur-kumur akan menyegarkan berbagai organ yang ada di wajah dan menjadi cerah. Dan uji-coba ini belum pernah dikemukakan oleh para dosen olah raga kecuali sedikit. Hal ini karena mereka hanya memperhatikan kepada organ-organ tubuh yang besar. Dan membasuh wajah dan kedua tangan sampai siku, serta kedua kaki memberikan manfaat untuk menghilangkan debu-debu dan berbagai bakteri, apalagi dengan membersihkan badan dari keringat dan kotoran lainnya yang keluar melalui kulit.

Dan juga, sudah terbukti secara ilmiah tidak akan menyerang kulit manusia kecuali apabila kadar kebersihan kulitnya rendah. Sebab manusia apabila lama beraktivitas tanpa membasuh anggota badanya, maka kulit akan mengalami berbagai peradangan yang menyerang permukaan kulit, seperti kudis. Dan kudis ini menyerang ujung jari-jari yang sebagian besar tidak dalam keadaan bersih, sehingga masuklah berbagai mikroba ke dalam kulit.
Oleh karena itu, bertumpuk-tumpuknya peradangan sangat mengundang mikroba untuk berkembang-biak dan menyebar. Maka, wudhu telah mendahului Ilmu Pektrologi modern dan para pakar yang menggunakan karantina sebagai media untuk mengetahui berbagai mikroba dan jamur-jamur yang menyerang kulit orang-orang yang tidak suka dengan kebersihan, dimana kebersihan ini semakna dengan wudhu dan mandi dan dengan uji-coba dan penelitian.

Penelitian dan uji coba ini memberikan manfaat yang lain:

Bahwa kedua tangan banyak membawa mikroba yang terkadang berpindah ke mulut atau hidung apabila tidak dibasuh. Oleh karena itu, sangat ditekankan untuk membersihkan kedua tangan terlebih dahulu sebelum melakukan wudhu. Dan ini menambah jelas kepada kita sabda Rasulullah: Apabila salah seorang diantara kalian bangun dari tudir, maka janganlah mencelupkan kedua tangannya ke bejana (tempat air) sebelum mencucinya terlebih dahulu tiga kali.

Dan sudah terbukti juga bahwa peredaran darah pada organ tangan bagian atas dan lengan bawah serta organ-organ bagian bawah seperti kedua kaki dan kedua betis adalah organ-organ yang paling lemah dibandingkan organ tubuh lainnya karena jauhnya dari pusat peredaran darah, jantung. Maka apabila kita membasuhnya diserta menggosoknya, maka akan menguatkan peredaran darah pada organ-organ tersebut sehingga membantu kita menambah tenaga dan vitalitas. Dan dari itu semua, maka terketahuilah mukjizat disyari\'atkannya wudhu di dalam Islam.

( Sumber: Al-I\'jaaz Al-Ilmiy fii Al-Islam wa Al-Sunnah Al-Nabawiyah )

Muhammad Kamil Abd Al-Shomad
Dr. Ahmad Syauqy Ibrahim, Anggota Ikatan Dokter Kerajaan Arab Saudi di London dan Penasihat Penderita Penyakit Dalam dan Penyakit Jantung mengatakan, \"Para Pakar sampai berkesimpulan bahwa mencelupkan anggota tubuh ke dalam air akan bisa mengembalikan tubuh yang lemah menjadi kuat, mengurangi kekejangan menjadi rileks syaraf-syaraf dan otot, hilangnya kenaikan detak jantung dan nyeri-nyeri otot, kecemasan, dan insomnia (susah tidur)\". Hal ini dikuatkan oleh salah seorang pakar dari Amerika dengan ucapannya, \"Air mengandung kekuatan magis, bahkan membasuhkan air ke wajah dan kedua tangan -yang dimaksud adalah aktivitas wudhu- adalah cara yang paling efektif untuk relaksasi (menjadikan badan rileks) dan menghilangkan tensi tinggi (emosi).
Sungguh, Maha Suci Allah Yang Maha Agung ...

Sumber : www.alsofwah.or.id

Senin, 02 April 2012

KEISTIMEWAAN SHALAT TAHAJUD

Shalat malam, bila shalat tersebut dikerjakan sesudah tidur, dinamakan shalat Tahajud, artinya terbangun malam. Jadi, kalau mau mengerjakansholat Tahajud, harus tidur dulu. Shalat malam ( Tahajud ) adalah kebiasaan orang-orang shaleh yang hatinya selalu berdampingan denganAllah SWT.

Berfirman Allah SWT di dalam Al-Qur’an :
“ Pada malam hari, hendaklah engkau shalat Tahajud sebagai tambahan bagi engkau. Mudah-mudahan Tuhan mengangkat engkau ketempat yang terpuji.”
(QS : Al-Isro’ : 79)

Shalat Tahajud adalah shalat yang diwajibkan kepada Nabi SAW sebelum turun perintah shalat wajib lima waktu. Sekarang shalat Tahajud merupakan shalat yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan .

Sahabat Abdullah bin
Salam mengatakan, bahwa Nabi SAW telah bersabda :
“ Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam dan berikanlah makanan serta sholat malamlah diwaktu manusia sedang tidur, supaya kamu masuk Sorga dengan selamat.”(HR Tirmidzi)

Bersabda Nabi Muhammad SAW :
“Seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat sunnat di waktu malam” ( HR. Muslim )

Waktu Untuk Melaksanakan Sholat Tahajud :
Kapan afdhalnya shalat Tahajud dilaksanakan ? Sebetulnya waktu untuk melaksanakan shalat Tahajud ( Shalatul Lail ) ditetapkan sejak waktu Isya’ hingga waktu subuh ( sepanjang malam ). Meskipun demikian, ada waktu-waktu yang utama, yaitu :
1. Sangat utama : 1/3 malam pertama ( Ba’da Isya – 22.00 )
2. Lebih utama : 1/3 malam kedua ( pukul 22.00 – 01.00 )
3. Paling utama : 1/3 malam terakhir ( pukul 01.00 – Subuh )

Menurut keterangan yang sahih, saat ijabah (dikabulkannya do’a) itu adalah 1/3 malam yang terakhir. Abu Muslim bertanya kepada sahabat Abu Dzar : “ Diwaktu manakah yang lebih utama kita mengerjakan sholat malam?”

Sahabat Abu Dzar menjawab : “Aku telah bertanya kepada Rosulullah SAW sebagaimana engkau tanyakan kepadaku ini.” Rosulullah SAW bersabda :

“Perut malam yang masih tinggal adalah 1/3 yang akhir. Sayangnya sedikit sekali orang yang melaksanakannya.” (HR Ahmad)

Bersabda Rosulullah SAW :

“ Sesungguhnya pada waktu malam ada satu saat ( waktu. ). Seandainya seorang Muslim meminta suatu kebaikan didunia maupun diakhirat kepada Allah SWT, niscaya Allah SWT akan memberinya. Dan itu berlaku setiap malam.” ( HR Muslim )

Nabi SAW bersabda lagi :

“Pada tiap malam Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala turun ( ke langit dunia ) ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman : “ Barang siapa yang menyeru-Ku, akan Aku perkenankan seruannya. Barang siapa yang meminta kepada-Ku, Aku perkenankan permintaanya. Dan barang siapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dia.” ( HR Bukhari dan Muslim )

Jumlah Raka’at Shalat Tahajud :

Shalat malam (Tahajud) tidak dibatasi jumlahnya, tetapi paling sedikit 2 ( dua ) raka’at. Yang paling utama kita kekalkan adalah 11 ( sebelas ) raka’at atau 13 ( tiga belas ) raka’at, dengan 2 ( dua ) raka’at shalat Iftitah. Cara (Kaifiat) mengerjakannya yang baik adalah setiap 2 ( dua ) rakaat diakhiri satu salam. Sebagaimana diterangkan oleh Rosulullah SAW :“ Shalat malam itu, dua-dua.” ( HR Ahmad, Bukhari dan Muslim )

Adapun Kaifiat yang diterangkan oleh Sahabat Said Ibnu Yazid, bahwasannya Nabi Muhammad SAW shalat malam 13 raka’at, sebagai berikut :

1) 2 raka’at shalat Iftitah.

2) 8 raka’at shalat Tahajud.

3) 3 raka’at shalat witir.

Adapun surat yang dibaca dalam shalat Tahajud pada raka’at pertama setelah surat Al-Fatihah ialah Surat Al-Baqarah ayat 284-286. Sedangkan pada raka’at kedua setelah membaca surat Al-Fatihah ialah surat Ali Imron 18-19 dan 26-27. Kalau surat-surat tersebut belum hafal, maka boleh membaca surat yang lain yang sudah dihafal.Rasulullah SAW bersabda :

“Allah menyayangi seorang laki-laki yang bangun untuk shalat malam, lalu membangunkan istrinya. Jika tidak mau bangun, maka percikkan kepada wajahnya dengan air. Demikian pula Allah menyayangi perempuan yang bangun untuk shalat malam, juga membangunkan suaminya. Jika menolak, mukanya

disiram air.” (HR Abu Daud)

Bersabda Nabi SAW :

“Jika suami membangunkan istrinya untuk shalat malam hingga

keduanya shalat dua raka’at, maka tercatat keduanya dalam golongan (perempuan/laki-laki) yang selalu berdzikir.”(HR Abu Daud)

Keutamaan Shalat Tahajud :

Tentang keutamaan shalat Tahajud tersebut, Rasulullah SAW suatu hari bersabda : “Barang siapa mengerjakan shalat Tahajud dengan

sebaik-baiknya, dan dengan tata tertib yang rapi, maka Allah SWT akan memberikan 9 macam kemuliaan : 5 macam di dunia dan 4 macam di akhirat.”

Adapun lima keutamaan didunia itu, ialah :

1. Akan dipelihara oleh Allah SWT dari segala macam bencana.

2. Tanda ketaatannya akan tampak kelihatan dimukanya.

3. Akan dicintai para hamba Allah yang shaleh dan dicintai oleh

semua manusia.

4. Lidahnya akan mampu mengucapkan kata-kata yang mengandung hikmah.

5. Akan dijadikan orang bijaksana, yakni diberi pemahaman dalam agama.

Sedangkan yang empat keutamaan diakhirat, yaitu :

1. Wajahnya berseri ketika bangkit dari kubur di Hari Pembalasan nanti.

2. Akan mendapat keringanan ketika di hisab.

3. Ketika menyebrangi jembatan Shirotol Mustaqim, bisa melakukannya dengan sangat cepat, seperti halilintar yang menyambar.

4. Catatan amalnya diberikan ditangan kanan.

(Bahan (materi) di ambil dari buku “RAHASIA SHALAT SUNNAT” (Bimbingan

Lengkap dan Praktis) Oleh: Abdul Manan bin H. Muhammad S

Sumber: http://tahajudcallmq.wordpress.com/2007/08/20/%E2%80%9C-keutamaan-shalat-tahajud-%E2%80%9D

Minggu, 01 April 2012

Figur Rosulullah Nabi Muhammad SAW


Keagungan Rasulullah SAW sungguh membuat kami-tentu juga Anda sekalian sangat kagum.
Keagungan beliau tidak akan membuat kagum selain bagi orang yang menjadikan Allah sebagai
Tuhannya dan Islam sebagai agamanya.
Sebelum datang kerasulan beliau, pakaian kita umat Islam tergeletak di atas tanah berlumur kotoran
dan debu. Begitu beliau diangkat menjadi Rasul, pakaian kita diangkat dari tanah lalu di bersihkan, dan
setelah duapuluh lima tahun kita sanggup berlayar di atas lautan serta mengarungi samudera sambil
menjunjung kalimat laa ilaaha illallaah.
Suatu hari Rab'i ibn ‘Amir, salah seorang sahabat, memasuki wilayah Qadisiyah dan bertemu dengan
panglima pasukan kerajaan Persia yang bernama Rustam. Ketika melihat Rab'i, Rustarn tertawa.
Mengapa ia tertawa? la menertawakan orang-orang Arab yang menurutnya adalah bangsa yang suka
berpindah-pindah tempat (nomaden), primitif, tidak tahu peradaban, dan tidak berbudaya. Mereka
cuma bisa berburu biayak dan kumbang padang pasir lalu memakannya dan tidur dengan wajah
menempel di atas padang pasir. Tak heran jika sang panglima pasukan Persia itu tertawa begitu melihat
orang Arab karena ia tahu bagaimana watak dan tabiat mereka. Tapi ia tidak tahu bahwa orang-orang
Arab kini telah berubah. Ia tidak tahu bahwa orang yang ia tertawakan kini sudah bukan manusia
primitif dan tak beradab lagi.
Rustam berkata kepadanya, "Apakah kamu akan menaklukan dunia ini dengan kudamu yang lesu,
dengan panahmu yang rapuh dan dengan pakaianmu yang lusuh?" Rab'i berkata, "Ya. Sesungguhnya
Allah telah memberikan titah kepada kami untuk membebaskan manusia dari penghambaan terhadap
sesama hamba menjadi penghambaan hanya kepada Tuhan hamba, dari sempitnya dunia menuju
lapangnya akhirat, dan dari kezaliman agama-agama buatan manusia menuju keadilan Islam."
Akhirnya, Islam yang didakwahkan Rab'i memperoleh kemenangan, kalimat laa ilaaha illallaah pun
terpancang tinggi.
Ketika Qutaibah ibn Muslim memimpin pasukan Islam mengepung kota Kabul, ia menanyakan tentang
Muhammad ibn Wasi' kepada pasukannya. Muhammad ibn Wasi' adalah seorang ahli ibadah, zuhud,
dan alim. Mereka mengatakan, "la sedang berada di barisan paling belakang dari pasukan kita ini."
Qutaibah berkata lagi, "Pergilah kalian, dan lihat apa yang sedang ia lakukan!" Mereka pergi untuk
melihat apa yang sedang dilakukannya. Ternyata mereka menemukannya sedang berdzikir dan berdoa
kepada Allah sambil menunjukkan jarinya ke langit. Mereka kembali kepada Qutaibah dan melaporkan
hal itu kepadanya. Mendengar keterangan itu, Qutaibah menitikkan airmata, lalu berkata, "Demi Dzat
Yang jiwaku di TanganNya, sungguh jari Muhammad ibn Wasi' itu lebih baik bagiku daripada seratus
ribu pedang yang terhunus dan dari seratus ribu pejuang yang gagah berani."
Pada waktu Rasulullah SAW diutus kepada umatnya, mereka sedang membutuhkan apa yang kelak
disebut dengan industri, ketersediaan pangan, air minum dan sumber makanan lainnya. Akan tetapi
beliau tidak mendahulukan semua itu. Yang pertama-tama beliau lakukan adalah membangun masjid.
Masjid yang dibangun oleh Nabi SAW kemudian menjadi sumber ilmu pengetahuan. Dari masjid itu

lalu lahir ulama-ulama ternama, para mufassir besar, dan ilmuan-ilmuan ternama.
Kebutuhan-kebutuhan duniawi tersebut di atas haruslah menempati urutan kedua setelah terbentuknya
kepribadian umat, kecerdasan, dan kekuatan iman mereka.
Masjid Rasulullah SAW selalu ranmai dengan segala macam dan aspek kehidupan. la merupakan
markas komando tertinggi, pusat ilmu dan pengkajian, tempat pertemuan kaum pencinta ilmu, tempat
berkumpul para tokoh dan pejuang Islam, dan tentu saja tempat ibadah.
Berbasiskan masjid, Rasulullah SAW berhasil membangun sebuah umat yang akan selalu eksis
sepanjang masa, atas karunia Allah. Beliau sukses melakukan itu semua berkat kegigihan, kesabaran,
budi pekerti yang baik serta kelapangan dadanya. Tentang beliau Allah SWT berfirman, "Dan yang
mempersatukan hati mereka [orang-orang yang beriman]. Walaupun kamu membelanjakan semua
[kekayaan] yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi
Allah telah mempersatukan mereka. Sesungguhnya Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. al-
Anfal [8]: 63)
Sungguh merupakan mukjizat terbesar; Rasulullah SAW datang kepada umat yang buta huruf, umat
jahiliah, dan beliau sendiri seorang yang tidak pandai baca tulis, kemudian beliau berhasil membangun
sebuah peradaban teragung dalam sejarah umat manusia.
DR. A’id ‘Abdullah Al-Qarni
ria_firdaus:
Rasulullah SAW Lah Yang Berhasil Menciptakan Manusia Untuk Selalu Ingat Kepada Allah Setiap
Saat
Suatu hari, ‘Umar ibn al-Khaththab melewati seorang penggembala kambing. ‘Umar berkata
kepadanya, "Wahai penggembala, juallah seekor saja dari kambingmu itu kepadaku!" Penggembala itu
berkata, "Kambing-kambing ini bukanlah milikku, melainkan milik majikanku. Dan ia tidak
mengizinkanku menjualnya. ‘Umar bermaksud menguji keteguhan iman si penggembala itu dengan
mengatakan, "Katakan saja kepada majikanmu itu bahwa seekor kambingnya telah dimakan serigala."
Namun, penggembala itu berkata, "Allahu Akbar (Allah Mahabesar), wahai ‘Umar, dimanakah Allah?"
‘Umar menangis melihat keteguhan iman dari penggembala itu.
Tiada yang mengajari si penggembala kambing itu tentang pengawasan Allah Yang Mahatunggal lagi
Maha Esa selain Rasulullah SAW. Kedatangan Rasulullah SAW menjadi rahmat dan petunjuk bagi
manusia, sebagaimana firman-Nya mengatakan, "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk
[menjadi] rahmat bagi semesta alam." (QS. al-Anbiya` [21]: 107) Salah seorang cendekiawan Muslim
berkata, "Sungguh mengagumkan, sebuah dakwah telah mengumumkan keuniversalitasan dakwahnya
sejak hari pertama." Allah SWT berfirman, "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk
[menjadi] rahmat bagi semesta alam." (QS. al-Anbiya` [21]: 107) Ayat ini mengandung pengertian
bahwa Rasulullah SAW adalah rahmat bagi kaum Muslim, kafir, hewan dan manusia. Ketika suatu kali
Rasulullah SAW mengimami shalat, beliau mendengar tangisan bayi bersama ibunya. Beliau ingat

bahwa ibunya adalah seorang Muslimah. Maka beliau menyegerakan shalatnya. Setelah salam beliau
bersabda, "Sesungguhnya aku berniat untuk memanjangkan shalat, tapi kemudian mendengar tangisan
bayi. Maka aku menyegerakan shalatku, karena khawatir (kalau shalatnya lama) dapat memberatkan
ibunya." (HR. Bukhari)
Oleh karena itu beliau pernah bersabda, "Wahai sekalian manusia, barangsiapa di antara kalian menjadi
imam ketika shalat, maka ringankanlah (pendekkanlah) shalatnya, sebab di antara para makmum ada
orang tua, anak-anak dan orang yang mempunyai keperluan." (HR. Bukhari)
Oleh karena itu pula beliau pernah memarahi Mu'adz ketika ia memanjangkan shalatnya saat
mengimami para sahabat. Rasulullah SAW bersabda kepada Mu'adz, "Apakah kamu ini pembuat
fitnah, wahai Mu'adz? Apakah kamu ini pembuat fitnah, wahai Mu'adz?" (HR. Bukhari)
Tentang kasih sayang Rasulullah SAW terhadap binatang, Ibnu Mas'ud meriwayatkan bahwa ketika
beliau duduk di bawah pohon, hinggaplah seekor burung hummarah di atas kepala beliau. Beliau SAW
berkata kepada para sahabat, "Burung ini mengadu kepadaku tentang anaknya yang kalian ambil.
Kembalikanlah anak burung itu kepadanya." (HR. Abu Dawud) Maka salah seorang sahabat
mengembalikan anak burung kepada induknya yang bertengger di atas kepala beliau SAW itu. Setelah
itu, sang induk terbang kembali bersama anaknya.
Kasih sayang Rasulullah SAW bahkan meliputi orang kafir, sebagaimana firman Allah berbunyi, "Dan
Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah
[pula] Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun." (QS. al-Anfal [8]: 33)
Dakwah yang dibawa Rasulullah SAW bercirikan kemudahan, dan jauh dari kesulitan dan kerumitan.
Namun kebanyakan kita ketika berbicara dengan orang lain dalam rangka berdakwah dan menyebarkan
ilmu lebih suka memilih kata-kata yang sulit, susah dipahami, dan berpanjang-panjang tanpa
menghasilkan faedah bagi si pendengar. Sebab, kita lebih suka dengan kesulitan dan kerumitan,
ketimbang kemudahan dan keringanan. Rasulullah SAW benar-benar merupakan contoh ideal bagi
kemudahan dan kemurahan.
Dalam hadits Anas dikatakan, "Dhamam ibn Tsa'labah, saudara Bani Sa'ad ibn Bakar, datang dari satu
tempat. Waktu itu Rasulullah SAW sedang berada di dalam masjid. Kemudian Dhamam ibn Tsa'labah
mengikatkan untanya di ujung masjid lalu menerobos barisan manusia yang ada di dalam masjid dan
berkata, "Mana anak ‘Abdul Muthalib (Rasulullah SAW)?" Setelah bertemu dengan Rasulullah, ia
berkata, "Wahai anak ‘Abdul Muthalib!" Rasulullah SAW menjawab, "Ya. Ada yang bisa aku bantu?"
Dhamam berkata, "Aku akan bertanya kepadamu tentang beberapa permasalahan:" Dengan tersenyum,
Rasulullah SAW menjawab, "Silahkan!" Dhamam berkata, "Siapakah yang meninggikan langit?"
Beliau menjawab, "Allah." Dhamam ibn Tsa'labah, "Siapakah yang menghamparkan bumi?" "Allah,"
jawab Nabi Iagi. "Siapakah yang memancangkan gunung-gunung?" terusnya. Nabi menjawab, "Allah."
Kemudian, Dhamam berkata, "Telah aku tanyakan kepadamu tentang siapa yang meninggikan langit,
yang menghamparkan bumi, dan yang memancangkan gunung-gunung. Dan engkau pun telah

menjawabnya. Sekarang, apakah Allah itu Yang mengutusmu kepada kami sebagai Rasul?" Rasulullah
SAW menjawab, "Ya."
Selanjutnya Dhamam ibn Tsa'labah menanyakan kepada beliau tentang rukun-rukun Islam. Dan setelah
selesai semua pertanyaannya dijawab oleh Rasulullah, ia mempersaksikan keislamannya di hadapan
beliau SAW, lalu berkata, "Aku adalah Dhamam ibn Tsa'labah, saudara Bani Sa’ad ibn Bakr. Demi
Allah, aku tidak akan menambahi atau mengurangi apa yang telah aku dengar." Kemudian ia berbalik,
dan Rasulullah SAW mengikutinya dengan tatapan dan senyuman serta perasaan leganya. Lalu beliau
bersabda, "Barangsiapa ingin melihat seseorang dari penghuni surga, maka lihatlah orang itu (Dhamam
ibn Tsa'labah). (HR. Buklhari)
DR. A’id ‘Abdullah Al-Qarni
ria_firdaus:
Inilah Cara Mudah Penyampaian Dakwah Yang Ditempuh Oleh Rasulullah SAW
Dalam hadits Anas dikatakan, "Dhamam ibn Tsa'labah, saudara Bani Sa'ad ibn Bakar, datang dari satu
tempat. Waktu itu Rasulullah SAW sedang berada di dalam masjid. Kemudian Dhamam ibn Tsa'labah
mengikatkan untanya di ujung masjid lalu menerobos barisan manusia yang ada di dalam masjid dan
berkata, "Mana anak ‘Abdul Muthalib (Rasulullah SAW)?" Setelah bertemu dengan Rasulullah, ia
berkata, "Wahai anak ‘Abdul Muthalib!" Rasulullah SAW menjawab, "Ya. Ada yang bisa aku bantu?"
Dhamam berkata, "Aku akan bertanya kepadamu tentang beberapa permasalahan:" Dengan tersenyum,
Rasulullah SAW menjawab, "Silahkan!" Dhamam berkata, "Siapakah yang meninggikan langit?"
Beliau menjawab, "Allah." Dhamam ibn Tsa'labah, "Siapakah yang menghamparkan bumi?" "Allah,"
jawab Nabi Iagi. "Siapakah yang memancangkan gunung-gunung?" terusnya. Nabi menjawab, "Allah."
Kemudian, Dhamam berkata, "Telah aku tanyakan kepadamu tentang siapa yang meninggikan langit,
yang menghamparkan bumi, dan yang memancangkan gunung-gunung. Dan engkau pun telah
menjawabnya. Sekarang, apakah Allah itu Yang mengutusmu kepada kami sebagai Rasul?" Rasulullah
SAW menjawab, "Ya."
Selanjutnya Dhamam ibn Tsa'labah menanyakan kepada beliau tentang rukun-rukun Islam. Dan setelah
selesai semua pertanyaannya dijawab oleh Rasulullah, ia mempersaksikan keislamannya di hadapan
beliau SAW, lalu berkata, "Aku adalah Dhamam ibn Tsa'labah, saudara Bani Sa’ad ibn Bakr. Demi
Allah, aku tidak akan menambahi atau mengurangi apa yang telah aku dengar." Kemudian ia berbalik,
dan Rasulullah SAW mengikutinya dengan tatapan dan senyuman serta perasaan leganya. Lalu beliau
bersabda, "Barangsiapa ingin melihat seseorang dari penghuni surga, maka lihatlah orang itu (Dhamam
ibn Tsa'labah). (HR. Buklhari)
Dari hadits di atas dapat diambil sedikitnya tiga pelajaran:
Pertama, kemudahan harus selalu menyertai para da'i ketika mereka menyampaikan seruan dan

dakwahnya di tengah-tengah manusia.
Kedua, mendahulukan urusan-urusan yang terpenting dan masalah-masalah besar, yaitu masalah tauhid
dan aqidah keimanan.
Ketiga, orang yang mengerjakan segala kewajiban dan menjauhi semua yang diharamkan oleh Allah,
Insya Allah akan masuk surga atas izin-Nya.
Di antara pola dakwah yang ditempuh oleh Rasulullah SAW adalah pola spesialisasi. Beliau selalu
menempatkan orang yang tepat pada tempat yang tepat pula. Beliau juga kerap menunjuk seseorang
melakukan sesuatu yang sesuai dengan keadaan dan kepribadian orang itu. Dalam Sunan at-Tirmidzi
diriwayatkan bahwa ‘Abdullah ibn Busr datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, "Wahai
Rasulullah, sesungguhnya ajaran-ajaran syari'at Islam aku anggap banyak (berat) sekali. Maka
beritakan kepadaku sesuatu yang dapat selalu aku lakukan." Rasulullah SAW bersabda, "Lidahmu
selalu basah menyebut nama Allah."' Rasulullah SAW memerintahkan perbuatan yang terbilang ringan
itu kepada ‘Abdullah ibn Busr, kerena ia orang tua yang sudah tidak sanggup lagi berpuasa, tidak
mampu lagi memperbanyak shalat, dan tentu saja tidak bisa lagi ikut berjihad.
Begitulah, Rasulullah SAW selalu memilihkan amal-amal ibadah untuk semua kalangan sesuai dengan
kondisi objektif mereka masing-masing. Ini berbeda dengan para da'i di masa sekarang, di mana
mereka menyampaikan dakwah kepada khalayak tanpa memperhatikan kondisi, potensi, dan strata
mereka.
Di antara pola dakwah lainnya dari beliau SAW adalah pola gradual (tadarruj), fase demi fase, tanpa
melupakan kedalaman meteri dan substansi dakwah. Ketika mengutus Mu'adz ke Yaman, beliau
bersabda kepada Mu'adz, "Sesungguhnya kamu akan mendatangi satu kaum Ahli Kitab." Maksudnya,
ketahuilah siapa yang akan menjadi objek dakwahmu. Ketahuilah bahwa kamu akan berada di tengahtengah
masyarakat terdidik. "Hendaklah yang pertama kali kamu dakwahkan adalah kesaksian bahwa
tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Jika mereka memenuhi
seruanmu, maka beritakan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima
waktu dalam sehari semalam.” (HR. Bukhari) Rasulullah SAW menyuruh Mu'adz untuk
menyampaikan dakwah kepada penduduk Yaman secara bertahap.
Itulah sekelumit tentang dakwah Rasulullah SAW dan pola penyampaiannya yang beliau tempuh.
Selanjutnya, mari kita lihat bagaimana ibadah beliau. Dengan harapan kita bisa mengambil pelajaran
darinya untuk diaplikasikan dalam realitas keseharian kita sekarang yang penuh dengan
pembangkangan dan penyimpangan. Allah telah memuji para nabi. Pujian itu diakhiri dengan
firmanNya, "... dan hanya kepada Kami mereka menyembah." (QS. al-Anbiya’ [21]: 73)
Dalam surah al-Kahfi Allah menyatakan bahwa la telah memelihara harta benda milik dua orang anak
yatim. Frman-Nya, "...sedang ayah keduanya adalah seorang yang shalih." (QS. al-Kahfi [18]: 82)
Allah menjaga harta benda mereka karena ayah mereka adalah orang shalih.
Allah juga memuji Rasulullah SAW Ketika menyampaikan pujian-Nya, Allah tidak memanggil beliau

dengan, misalnya, "Wahai bapak al-Qasim," atau "Wahai keturunan Bani Hasyim," atau "Wahai anak
‘Abdul Muthalib," melainkah dengan "hamba-Nya” seperti dalam firman-Nya yang berbunyi,
"Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjid al-Haram
ke al-Masjid al-Aqsha." (QS. al-Isra’ [17]: 1) Firman-Nya lagi, "Dan bahwasanya tatkala (Muharnmad)
hamba Allah berdiri menyembahNya, hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuninya." (QS.
al-Jin [72]: 19) Firman-Nya pula, "Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqan [yaitu Al-Qur'an]
kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alarn." (QS. al-Furqan [25]:
1)
Pada ayat-ayat di atas Allah memuji Rasulullah SAW karena ibadah yang dilakukan beliau, bukan
karena yang lainnya.
Ibn Qayyim berkata, "Rasulullah SAW, setiap ucapannya, setiap tarikan nafasnya, semua amalnya,
duduknya, bahkan tidurnya, merupakan dzikir kepada Tuhannya."
Tawadhu' (rendah hati) merupakan bekal wajib bagi setiap da'i, setiap pencari ilmu, dan setiap Muslim.
Sebab sesungguhnya Allah telah mengangkat derajat Rasulullah SAW karena ketawadhu'annya. Allah
SWT berfirman, "Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena
sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai
setinggi gunung." (QS. al-Isra’ [17]: 37)
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang bertawadhu' kepada Allah, maka
Allah akan mengangkat (derajat)nya, dan barangsiapa yang sombong kepada Allah, maka Allah akan
merendahkan (derajat)-nya.” (HR. Ahmad)
Dalam sebuah hadits shahih diriwayatkan bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah telah
mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu' sehingga seseorang tidak menganiaya orang lain dan
seseorang tidak sombong terhadap orang lain." (HR. Muslim)
DR. A’id ‘Abdullah Al-Qarni
ria_firdaus:
:C
emburu Karena Cinta RasulullahPenulis : Ahmad Sahidin
Wanita memang diciptakan sesuai dengan sifat dan wataknya. Selain cenderung emosional dan
dramatisir juga pecemburu. Dalam tarikh, selain Aisyah, Hafshah dikenal sebagai istri Rasulullah SAW
yang pencemburu. Terkadang sering membuat ulah untuk menarik perhatian Rasulullah. Suatu hari,
ketika Rasulullah menemuinya, Hafshah bertanya, "Ya Rasulullah, mengapa mulutmu berbau busuk?"
"Aku baru saja minum madu, bukan maghafir," jawab Nabi penuh tanda tanya. "Kalau begitu, engkau
minum madu yang sudah lama," timpal Hafshah.
Keheranan Rasulullah makin bertambah ketika Aisyah yang ditemuinya mengatakan hal serupa. Saking
kesalnya, Rasulullah mengharamkan madu buat dirinya untuk beberapa waktu. Beliau tak tahu kalau

Hafshah telah "berkomplot" dengan Aisyah untuk "ngerjain" Rasulullah. Keduanya cemburu lantaran
Nabi tinggal lebih lama dari jatah waktunya di rumah Zainab binti Jahsy. Waktu itu Nabi tertahan
karena Zainab menawarkan madu kepada beliau.
Membicarakan kehidupan Hafshah binti Umar bin Khattab tak bisa lepas dari sifat pencemburunya.
Pada dasarnya, sifatnya itu lahir dari rasa cintanya kepada Rasulullah. Ia merasa takut kalau Rasulullah
kurang memperhatikan dirinya. Namun, sifatnya itu melahirkan persoalan yang kurang menyenangkan.
Dikisahkan dalam sebuah perjalanan Nabi Muhammad SAW pernah membawa Hafshah dan Aisyah.
Kedua istri Nabi itu duduk di atas punggung unta yang berbeda. Selama perjalanan, Rasulullah lebih
sering berada bersama Aisyah. Saat istirahat, Hafshah yang terbakar api cemburu meminta Aisyah
berpindah tempat. Seusai istirahat, Rasulullah naik ke unta Aisyah yang sudah ditempati Hafshah dan
mengajak bicara. Beliau tak tahu kalau yang menjawabnya dengan jawaban-jawaban pendek itu
Hafshah. Dan Rasulullah tersadar bahwa dirinya dipermainkan kedua istrinya.
Begitu seringnya Hafshah membuat ulah, lantaran cemburu, Rasulullah pernah berniat akan
menceraikannya. Namun, Jibril datang mencegah Nabi. Rasulullah malah mendatangi anak Umar bin
Khattab itu dan berkata, "Ya Hafshah, hari ini Jibril datang kepadaku dan memerintahkan kepadaku
"irji' ilaa Hafshah, fainnaha hiya showwama, qowwama wa hiya azawaajuka fil jannah" (kembalilah
kepada Hafshah, sesungguhnya ia wanita yang senAntiasa puasa, mendirikan shalat, dan ia adalah
istrimu kelak di surga). Dialah Hafshah binti Umar, wanita yang mendapat pembelaan Jibril tatkala
hendak diceraikan Rasulullah lantaran sifat pencemburunya.
Meski memiliki kelemahan dan kekurangan karena sifatnya itu, tapi Hafshah adalah wanita yang tekun
beribadah. Ia rajin puasa sunnah dan tak pernah meninggalkan shalat tahajjud. Maka Jibril pun
membelanya, bahkan menyampaikan jaminan Allah bahwa Hafshah termasuk salah satu istri Nabi di
surga.
Kecemburuan istri-istrinya sebenarnya dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan manusiawi oleh
Rasulullah. Apalagi, beliau dikenal orang yang paling sabar dalam menghadapi berbagai persoalan,
termasuk ulah istri-istrinya. Namun, yang membuatnya marah adalah jika rasa cemburu itu mendorong
istri-istrinya atau dirinya melakukan maksiat kepada Allah. Rasulullah pernah ditegur Allah lantaran
mengharamkan madu dan istrinya Maria akibat ulah Hafshah. Rasa cemburu yang seperti inilah yang
tidak dibenarkan Rasulullah.
Akibat rasa cemburu yang berlebihan, Hafshah ditegur langsung oleh Allah melalui surat At-Tahrim
ayat 3 dan 4. Tapi, putri Umar bin Khattab itu pulalah yang dibela Jibril ketika hendak dicerai oleh
Rasulullah karena memiliki kelebihan-kelebihan dalam sisi peribadatannya. Allah SWT berfirman, Dan
ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya suatu peristiwa.
Maka tatkala menceritakan peristiwa itu dan Allah memberitahukan hal itu kepada Muhammad lalu
Muhammad memberitahukan sebagian dan menyembunyikan sebagian yang lain . Maka tatkala
memberitahukan pembicaraan lalu bertanya: "Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?"
Nabi menjawab: "Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal." Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah

condong ; dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah
adalah Pelindungnya dan Jibril dan orang-orang mu'min yang baik; dan selain dari itu malaikatmalaikat
adalah penolongnya pula. (QS At-Tahrim[66]: 3).
Ya, kelebihan seseorang dalam beribadah akan menolong seseorang dari kehilangan dan mendapat
pembelaan yang tak diduga-duga.
surga_firdaus:


Sumber:  Http://www.artanto.com